Roti’O dan Roti Boy, Kisah Si Penggoda Iman

Emang bisa baru meluncur langsung merebut?

Roti’O adalah produk makanan dan minuman yang dibuat oleh PT Sebastian Citra Indonesia. Produk ini didirikan pada 23 Mei 2012 dan Roti Boy adalah perusahaan roti asal Malaysia yang didirikan pada April 1998. Jadi, lebih dulu Roti Boy ya sobat!

Pada awalnya Roti Boy sudah menjadi ikon dalam industri roti panggang yang memiliki tekstur lembut dan aroma kopi yang menggoda. 

Sebenarnya ada apa ya di antara brand 2 ini?

Sejarah pecah kongsi antara Roti’O dan Roti Boy dimulai pada tahun 2004, ketika terjadi perselisihan antara Hiro Tan selaku pemilik Roti Boy dan Lala Hamid pemilik PT Sebastian Citra Indonesia, yang memegang hak waralaba Roti Boy di Indonesia. Perselisihan tersebut mengakibatkan Hiro Tan memutuskan untuk mencabut izin waralaba Roti Boy di Indonesia. Namun, Lala Hamid tidak tinggal diam dan memutuskan untuk membuat brand roti baru yang diberi nama Roti’O. 

Ternyata, ditengah kerjasama antara manajemen Malaysia dan Manajemen Indonesia yang keliatannya “mulus”, manajemen Indonesia memutuskan untuk pecah kongsi nih pada 23 Mei 2012. Kok bisa ya?

Sobat tau gak sih ungkapan “Serupa tapi tak sama”? Yap, hal inilah yang dilakukan oleh Manajemen Indonesia. Mereka membuat produk serupa dengan Roti Boy asal Malaysia dengan nama Roti’O. 

Sobat pasti pernah ngerasa deh, antara Roti Boy dan Roti’O ini bener-bener sama banget. Mulai dari rasa, harga, tekstur, dan aromanya. Hal ini disebabkan karena Manajemen Indonesia sudah melihat dan menerapkan resep rahasia dari Roti Boy. 

Terus sekarang gimana ya perkembangan 2 brand manis ini? Apa iya Roti’O sebagai pendatang baru mampu menggeser Roti Boy? Yuk kita bahas!

Berdasarkan data yang diambil dari Liputan6, per 2022 Roti’O sudah berhasil membuka 680 outlet di seluruh Indonesia dan Roti Boy per 2022 memiliki 60 outlet. Tetapi, Roti Boy menargetkan 60 outlet baru hingga akhir tahun 2023. 
Setelah dicari tahu, faktor utama yang membuat Roti Boy kalah saing dengan Roti’O adalah Roti Boy kesulitan untuk mengikuti perkembangan strategi marketing dan menargetkan lokasi strategis yang menjadi kunci konsumen Indonesia.

Faktor pertama adalah strategi marketing yang mereka lakukan dengan menerapkan Sensory marketing. Kedua brand ini sama-sama memiliki aroma yang sangat menggoda loh sobat! Aroma khas yang berasal dari kopi menjadi daya tarik dan pembangkit selera dari setiap konsumen yang melewati outlet mereka sehingga menimbulkan niat dan keputusan untuk membeli produk mereka. Marketing ‘penciuman’ inilah yang sengaja diperkuat untuk meningkatkan penjualan. 

Faktor kedua adalah mengenai pemilihan lokasi, Roti’O cenderung lebih berani untuk membuka banyak cabang sebagai bentuk usaha agar produk mereka dapat lebih dekat dan lebih dikenal konsumen. Mulai dari stasiun, bandara, mall, dan lokasi strategis lainnya yang jadi tempat berkumpulnya masyarakat. Berbeda dengan Roti Boy yang masih “terbatas” dan “ragu” dengan stuck di bandara dan mall aja.

Roti Boy dan Roti’O sama-sama berhasil dalam membangun branding perusahaan mereka. Keduanya mampu memberikan kualitas roti yang unik dan sesuai permintaan konsumen.

Jadi, itu dia sobat 2 faktor yang menurut mimin jadi faktor terkuat yang menyebabkan Roti’O dapat lebih berkembang dalam waktu singkat. Keren banget ya 2 brand manis ini bisa survive mempertahankan branding mereka. Mau tau cerita brand-brand unik lainnya? Cek instagram @yumakaid yuk!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »